Tag Archives: respirasi / pernapasan

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

Burung pada umumnya dapat terbang. Pada waktu terbang, otot-otot dada menggerakkan sayap sehingga mengganggu pengambilan napas oleh paru-paru. Maka dari itu di samping memiliki paru-paru, burung memiliki alat bantu pernapasan berupa kantung udara ( sakus pneumatikus). Letak kantung udara:

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

1) pangkal leher (servikal),

2) ruang dada bagian depan ( toraks anterior),

3) antartulang selangka (korakoid),

4) ruang dada bagian belakang ( toraks posterior),

5) rongga perut ( saccus abdominalis) dan ketiak (saccus axilliaris).

Fungsi kantung udara:

1) membantu pernapasan, terutama saat terbang;

2) menyimpan cadangan udara ( oksigen);

3) memperbesar atau memperkecil berat jenis pada saat berenang;

4) mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu banyak.

Mekanisme pernapasan:

–       Fase inspirasi: otot antartulang rusuk berkontraksi, rongga dada membesar, paru-paru mengembang sehingga udara luar masuk. Udara luar yang masuk sebagian kecil menuju paru-paru dan sebagian besar menuju ke kantung udara sebagai cadangan udara.

–       Fase ekspirasi: otot antar tulang rusuk relaksasi, rongga dada mengecil, paru-paru mengempis, akibatnya tekanan udara dalam paru-paru meningkat sehingga udara dari paru-paru yang kaya CO2 keluar.

Pernapasan Saat Istirahat

Pada saat istirahat, terjadi proses inspirasi dan ekspirasi.

1).   Proses Inspirasi

a).   Pengambilan udara adalah dimulai dari adanya pergerakan tulang rusuk ke arah depan bawah.

b).   Rongga dada membesar tetapi tekanan udara mengecil.

c).   Diikuti mengembangnya paru-paru dan mengecilnya tekanan di dalam rongga paru-paru.

d).   Akibatnya udara masuk ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan antara lain lewat lubang hidung luar, lubang hidung dalam, celah tekak, trakea, siring, dan terakhir udara masuk ke paru-paru.

e).   Setelah udara masuk ke paru-paru, udara akan masuk ke dalam parabronkus.

f).   Di dalam parabronkus terjadi pertukaran O2 dan CO2 semua udara yang masuk sebagian udara masuk ke dalam paru-paru dan sebagian udara lainnya masuk ke kantong udara.

2).    Proses Ekspirasi Saat Istirahat

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

a).   Tulang rusuk kembali ke posisi semula.

b).   Otot-otot dada bekerja dengan mengecilkan rongga dada, sedangkan tekanan rongga dada menjadi besar.

c).   Ruangan dari paru-paru menjadi tertekan sehingga menjadi sempit sedangkan tekanan dalam ruang paru-paru menjadi besar.

d).   Udara ke luar dari kantong udara dan paru-paru.

e).   Saat udara melewati paru-paru terjadi difusi O2 dan CO2 lagi.

Pernapasan Saat Terbang

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

Sistem Pernapasan Pada Aves (Burung)

Pada saat terbang pernapasan burung tidak menggunakan paru-paru, melainkan kantong udara antartulang korakoid, prosesnya sebagai berikut.

1).   Pada saat burung terbang mengangkat sayapnya, maka mengakibatkan kantong udara antartulang korakoid terjepit tetapi kantong udara yang terletak di bawah ketika mengembang.

2).   Udara masuk ke kantong udara yang berada di bawah ketiak.

3).   Terjadi proses masuknya udara (inspirasi) yang ditandai dengan terjadinya difusi O2 dan CO2 dalam paru-paru.

4).   Pada saat burung menurunkan sayapnya mengakibatkan kantong udara yang berada di bawah ketiak terjepit sehingga menyebabkan kantorng udara antartulang korakoid mengembang.

5).   Kemudian udara masuk ke dalam kantong udara antartulang korakoid.

6).   Sehingga terjadilah ekspresi yang juga ditandai terjadinya difusi O2 dan CO2.

Sistem Pernapasan pada Avertebrata

a. Sistem pernapasan pada Moluska

Hewan anggota filum Moluska terdapat dua kelompok, yaitu:

–       Moluska yang hidup di darat, misalnya bekicot (Achatina fulica) bernapas dengan paru-paru.

–       Moluska yang hidup di air, misalnya kerang (kelas Bivalvia) bernapas dengan insang.

b. Sistem pernapasan pada Echinodermata

Hewan-hewan Echinodermata hidup di air laut, contohnya bintang laut, landak laut, dan mentimun laut. Hewan-hewan ini bernapas dengan insang dermal atau insang kulit.

c.  Sistem pernapasan pada Arthropoda

Filum Arthropoda meliputi 4 kelas, yaitu:

–       Crustacea (golongan udang dan kepiting) bernapas dengan insang.

–       Myriapoda (golongan lipan dan luwing) bernapas dengan trakea.

–       Arachnida (golongan laba-laba dan kalajengking) bernapas dengan paru-paru buku.

–       Insekta (golongan serangga) bernapas dengan trakea.

Pada pernapasan dengan trakea, udara masuk melalui stigma/spirakel yang terletak pada setiap ruas tubuh serangga menuju ke pembuluh trakea yang bercabang-cabang sampai ke pembuluh halus yang mencapai seluruh

bagian tubuh. Pada Insekta, oksigen tidak diedarkan oleh darah. Darah hanya berfungsi mengedarkan sari-sari makanan dan hormon. Begitu juga CO2 keluar dari tubuh melalui pembuluh trakea menuju stigma hingga ke

lingkungan. Perhatikan gambar 6.9.

Sistem Pernapasan pada Avertebrata

Sistem Pernapasan pada Avertebrata

Sistem Pernapasan pada Porifera

Pada porifera, air yang membawa oksigen masuk melalui pori-pori tubuh (ostium) lalu masuk ke koanosit secara difusi. Di dalam mitokondria pada sel koanosit, oksigen digunakan untuk mengurai molekul organik menjadi molekul anorganik yang disertai pelepasan karbon dioksida. Karbon dioksida dibawa keluar oleh air melalui spongosoel lalu menuju oskulum dalam mitokondria sel koanosit.

Sistem Pernapasan pada Coelenterata

Coelenterata tersusun atas dua lapisan sel yaitu lapisan luar dan lapisan dalam. Pertukaran gas terjadi secara difusi pada sel di luar permukaan tubuh yang bersentuhan dengan air. Coelenterata memiliki alat bantu pernapasan yaitu berupa lekukan jaringan yang disebut sifonoglifa.

Sistem Pernapasan pada Cacing

Cacing tidak memiliki alat pernapasan khusus. Sehingga oksigen harus berdifusi melalui kulit untuk masuk ke dalam kapiler darah. Karbon dioksida juga keluar melalui kulit. Proses pernapasan semacam ini disebut pernapasan integumenter. Cacing memiliki permukaan yang licin supaya tetap lembap sehingga memudahkan terjadi pertukaran gas.

Kelainan dan Gangguan pada Sistem Pernafasan

Penyakit pada sistem pernapasan dapat mempengaruhi setiap bagian dari saluran pernapasan dan berkisar dari sepele untuk mengancam jiwa. Saluran hidung dan faring adalah target untuk virus membran. Sistem kekebalan tubuh perkelahian kembali dengan meningkatkan aliran darah ke daerah tersebut, membawa banyak sel darah putih virus menyerang ke tempat kejadian; ini menyebabkan membran membengkak, sehingga hidung tersumbat terkait dengan pilek. Sekresi mukus meningkat sebagai respon terhadap serangan virus, menciptakan pilek khas pilek. Infeksi dapat menyebar ke sinus, rongga membran-line di kepala, serta saluran pernapasan bagian bawah dan telinga tengah.

Sistem pernafasan juga tunduk pada reaksi alergi seperti demam dan asma, membawa ketika sistem kekebalan tubuh dirangsang oleh serbuk sari, debu, atau iritasi lainnya. Demam ditandai dengan pilek, mata berair, dan bersin. Ini biasanya terjadi secara musiman dalam menanggapi serbuk sari yang melimpah di udara.

Beberapa gangguan pada sistem pernapasan disebabkan gangguan pada alat-alat pernapasan. Gejala umum adanya gangguan pada saluran pernapasan ditandai dengan batuk.

Kelainan dan Gangguan pada Sistem Pernafasan

Kelainan dan Gangguan pada Sistem Pernafasan

a. Asfiksi, yaitu gangguan pada sistem pernapasan yang disebabkan karena terganggunya pengangkutan O2 ke sel-sel atau jaringan tubuh. Asfiksi ada bermacam-macam, misalnya terisinya alveolus dengan cairan limfa karena infeksi Diplococcus pneumonia atau Pneumococcus yang menyebabkan penyakit pneumonia. Asfiksi dapat pula disebabkan karena penyumbatan saluran pernapasan oleh kelenjar limfa, misalnya polip, amandel, dan adenoid.

Pada orang yang tenggelam, alveolusnya terisi air sehingga difusi oksigen sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali sehingga mengakibatkan orang tersebut shock dan pernapasannya dapat terhenti. Orang seperti itu dapat ditolong dengan mengeluarkan air dari saluran pernapasannya. Kemudian melakukan pernapasan buatan tanpa alat dengan cara dari mulut ke mulut dengan irama tertentu dengan menggunakan metode Silvester dan Hilger Neelsen.

b. Sinusitis, yaitu peradangan pada rongga hidung bagian atas.

c. Selesma, suatu keadaan di mana hidung tersumbat, ingus mengalir, bersinbersin, serta tenggorokan terasa gatal. Selesma disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan atas.

d. Flu (influenza), suatu keadaan di mana hidung beringus, bersin-bersin, tenggorokan meradang, sakit kepala, demam, otot terasa sakit dan lelah. Influenza disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan atas.

Penyebab influenza adalah virus yang menginfeksi jaringan saluran nafas bagian atas. Terdapat 3 jenis virus yang di kenal yaitu A,B, dan C. Virus tipe A akan menyebabkan gejala  yang berat, menyebar secara cepat dan dapat menyebabkan infeksi di suatu negara atau wilayah (pandemi). Virus tipe B akan menyebabkan gejala yang lebih ringan dan penyebarannya tidak secepat virus tipe A. Virus tipe C hanya memberikan gejala yang ringan saja. Perbedaan dari virus ini dapat diketahui melalui pemeriksaan dari cairan ludah dengan mempergunakan test secara genetik.

Transmisi virus melalui udara dan air ludah sangat bergantung dari jumlah virus yang terkandung didalamnya. Dari hasil penelitian apabila didapatkan 10 virus / air ludah sebanyak 50% orang yang terkena air ludah ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada sel permukaan di rongga hidung dan saluran nafas.

Setelah virus berhasil masuk kedalam sel, dalam beberapa jam akan mengalami replikasi dan menuju ke permukaan sel sehingga dapat meninggalkan sel yang sudah rusak untuk masuk ke sel yang baru, baik sel yang berada di sebelahnya atau menempel pada air ludah dan menyebar melalui udara.

Gejala pada penderita Influenza, umumnya pasien mengeluh demam, sakit kepala, sakit otot, batuk , pilek, terkadang disertai sakit pada waktu menelan dan serak. Gejala ini dapat didahului oleh lemah badan dan rasa dingin.Pada kondisi ini biasanya sudah didapatkan gambaran kemerahan pada tenggorokan.

Gejala-gejala diatas dapat terjadi beberapa hari dan hilang dengan sendirinya. Tubuh memiliki kemampuan untuk menghilangkan virus dan bakteri yang berbahaya melalui sistem pertahanan tubuh degnan sel darah putih, tetapi pertahanan ini akan baik apabila kondisi tubuh baik pula. Setelah masa penghancuran virus dan bakteri berbahaya  tubuh membutuhkan waktu untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi sehingga akan terasa lemas dan lemah.

e Bronkitis, yaitu peradangan pada lapisan dinding bronkus (cabang tenggorok) yang disebabkan oleh infeksi virus. Peradangan ini menimbulkan batuk yang dalam, menghasilkan dahak berwarna abu-abu kekuningan dari paru-paru.

Bronkitis akut adalah infeksi dari pohon bronkial. Pohon bronkial terdiri dari tabung yang membawa udara ke paru-paru. Ketika tabung ini terinfeksi, mereka membengkak dan bentuk lendir. Hal ini membuat sulit bagi seseorang untuk bernapas. Orang itu mungkin batuk lendir dan mengi banyak.

Bronkitis akut hampir selalu disebabkan oleh virus yang menyerang lapisan pohon dan menyebabkan infeksi bronkial. Sebagai tubuh perkelahian kembali terhadap virus ini, lebih pembengkakan terjadi dan lebih banyak lendir dibuat. Butuh waktu bagi tubuh untuk membunuh virus dan menyembuhkan kerusakan pada tabung bronkial. Dalam kebanyakan kasus, virus yang sama yang menyebabkan pilek menyebabkan bronkitis akut. Infeksi bakteri jauh kurang umum di bronkitis. Sangat jarang, infeksi yang disebabkan oleh jamur dapat menyebabkan bronkitis akut.

f. Asma, yaitu penyempitan saluran pernapasan utama pada paru-paru. Asma merupakan penyakit keturunan dan tidak menular. Penyebab atau pemicu serangan asma umumnya karena reaksi alergi terhadap kondisi lingkungan, misalnya debu, bahan-bahan kimia, serbuk sari, jamur, hawa dingin, dan serpihan kulit mati dari hewan. Mereka mungkin bereaksi terhadap polusi udara, asap, debu serbuk sari, alergi, atau pemicu lainnya. Tabung pernapasan dapat mengencangkan, menjadi meradang dan bengkak. Yang membuat lebih sulit bagi seseorang untuk bernapas segar dalam dan menghembuskan napas udara keluar.

Bagi banyak orang, kecenderungan untuk asma dapat diwariskan. Faktor-faktor lain juga terlibat seperti merokok, alergi, dan beberapa obat dapat membuat asma lebih buruk.

g. Tuberkulosis (TBC), yaitu penyakit yang menyerang paru-paru sehingga pada bagian dalam alveolus terbentuk bintil-bintil karena terjadi peradangan pada dinding alveolus. TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Kelainan dan Gangguan pada Sistem Pernafasan

Kelainan dan Gangguan pada Sistem Pernafasan

h. Pneumonia, yaitu suatu peradangan pada paru-paru khususnya pada alveolus yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Akibat peradangan tersebut, alveolus dipenuhi nanah, lendir, atau cairan lainnya sehingga oksigen sulit mencapai aliran darah.

Penyakit Pneumonia sering kali diderita sebagian besar orang yang lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki penyakit kronik sebagai akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh (Imun), akan tetapi Pneumonia juga bisa menyerang kaula muda yang bertubuh sehat. Saat ini didunia penyakit Pneumonia dilaporkan telah menjadi penyakit utama di kalangan kanak-kanak dan merupakan satu penyakit serius yang meragut nyawa beribu-ribu warga tua setiap tahun.

Terjadinya penyakit pneumonia yaitu gejala yang berhubungan dengan pneumonia termasuk batuk, sakit dada, demam, dan kesulitan bernafas.Sedangkan tanda-tanda menderita Pneumonia dapat diketahui setelah menjalani pemeriksaan X-ray (Rongent) dan pemeriksaan sputum.Cara penularan virus atau bakteri Pneumonia sampai saat ini belum diketahui pasti, namun ada beberapa hal yang memungkinkan seseorang beresiko tinggi terserang penyakit Pneumonia. Hal ini diantaranya adalah :

1. Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS dan para penderita penyakit kronik seperti sakit jantung, diabetes mellitus. Begitupula bagi mereka yang pernah/rutin menjalani kemoterapy (chemotherapy) dan meminum obat golongan Immunosupressant dalam waktu lama, dimana mereka pada umumnya memiliki daya tahan tubuh (Immun) yang lemah.

2. Perokok dan peminum alkohol. Perokok berat dapat mengalami irritasi pada saluran pernafasan (bronchial) yang akhirnya menimbulkan secresi muccus (riak/dahak), Apabila riak/dahak mengandung bakteri maka dapat menyebabkan Pneumonia.Alkohol dapat berdampak buruk terhadap sel-sel darah putih, hal ini menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh dalam melawan suatu infeksi.

3. Pasien yang berada di ruang perawatan intensive (ICU/ICCU). Pasien yang dilakukan tindakan ventilator (alat bantu nafas) ‘endotracheal tube’ sangat beresiko terkena Pneumonia. Disaat mereka batuk akan mengeluarkan tekanan balik isi lambung (perut) ke arah kerongkongan, bila hal itu mengandung bakteri dan berpindah ke rongga nafas (ventilator) maka potensial tinggi terkena Pneumonia.

4. Menghirup udara tercemar polusi zat kemikal. Resiko tinggi dihadapi oleh para petani apabila mereka menyemprotkan tanaman dengan zat kemikal (chemical) tanpa memakai masker adalah terjadi irritasi dan menimbulkan peradangan pada paru yang akibatnya mudah menderita penyakit Pneumonia dengan masuknya bakteri atau virus.

5. Pasien yang lama berbaring. Pasien yang mengalami operasi besar sehingga menyebabkannya bermasalah dalah hal mobilisasi merupakan salah satu resiko tinggi terkena penyakit Pneumonia, dimana dengan tidur berbaring statis memungkinkan riak/muccus berkumpul dirongga paru dan menjadi media berkembangnya bakteri.

Penanganan dan pengobatan pada penderita Pneumonia tergantung dari tingkat keparahan gejala yang timbul dan type dari penyebab Pneumonia itu sendiri, antara lain:

1. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri akan diberikan pengobatan antibiotik. Pengobatan haruslah benar-benar komplite sampai benar-benar tidak lagi adanya gejala atau hasil pemeriksaan X-ray dan sputum tidak lagi menampakkan adanya bakteri Pneumonia, jika tidak maka suatu saat Pneumonia akan kembali diderita.

2. Pneumonia yang disebabkan oleh virus akan diberikan pengobatan yang hampir sama dengan penderita flu, namun lebih ditekankan dengan istirahat yang cukup dan pemberian intake cairan yang cukup banyak serta gizi yang baik untuk membantu pemulihan daya tahan tubuh.

3. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur akan mendapatkan pengobatan dengan pemberian antijamur.

Disamping itu pemberian obat lain untuk membantu mengurangi nyeri, demam dan sakit kepala. Pemberian obat anti (penekan) batuk di anjurkan dengan dosis rendah hanya cukup membuat penderita bisa beristirahat tidur, Karena batuk juga akan membantu proses pembersihan secresi mucossa (riak/dahak) diparu-paru.

i. Pleuritis, yaitu suatu peradangan pada selaput pembungkus paru-paru (pleura). Peradangan ini biasanya timbul akibat infeksi dari paru-paru atau organ lain yang berdekatan dengan paru-paru. Akibat peradangan ini, terdapat cairan yang berlebihan pada pleura sehingga penderitanya akan merasa nyeri dada ketika bernapas.

j. Emfisema, yaitu penyakit pernapasan yang sering terjadi karena susunan dan fungsi alveolus yang abnormal.

Oleh karena itu, paru-paru harus dirawat dengan baik. Walaupun tampak tidak bekerja keras karena hanya mengembang dan mengempis, tanpa organ tubuh ini seseorang akan kehilangan nyawanya dalam beberapa menit saja.

Dalam emfisema jaringan alveolar sebagian hancur dan alveoli tersisa melemah dan membesar. Bronkiolus runtuh pada pernafasan, menjebak udara di alveoli. Seiring waktu proses ini mengganggu kemampuan untuk bertukar oksigen dan karbon dioksida dengan sistem peredaran darah, menyebabkan kesulitan bernapas; Emfisema adalah penyakit noncontiguous yang dihasilkan dari beberapa faktor, termasuk kecenderungan genetik untuk kondisi, asap, asap rokok, dan infeksi.

Jenis olahraga yang baik adalah olahraga yang dapat membuat pernapasan lebih cepat dan lebih dalam. Lakukan pembersihan darah pada paruparu beberapa kali dalam sehari. Pembersihan darah dapat dilakukan dengan menarik napas dalam-dalam lalu hembuskan kembali sampai habis. Walaupun kelihatannya sangat sederhana, latihan ini dapat menambah semangat dan energi.

meningococcemia

Meningococcemia adalah adanya meningococcus dalam aliran darah. Meningococcus, bakteri Neisseria meningitidis secara resmi disebut, dapat menjadi salah satu penyakit menular yang paling dramatis dan cepat fatal semua.

Meningococcemia, infeksi relatif jarang, terjadi paling sering pada anak-anak dan dewasa muda. Pada orang yang rentan, dapat menyebabkan penyakit yang sangat parah yang dapat membunuh dalam hitungan jam. Bakteri, yang dapat menyebar dari orang ke orang biasanya pertama kali menyebabkan kolonisasi di saluran napas bagian atas, tapi tidak ada gejala. Dari sana, dapat menembus ke dalam aliran darah ke sistem saraf pusat dan menyebabkan meningitis atau berkembang menjadi infeksi aliran darah fullblown (meningococcemia). Untungnya, pada orang yang paling terjajah, hal ini tidak terjadi dan hasil penjajahan ini adalah kekebalan tahan lama terhadap strain tertentu.

Setelah penjajahan didirikan, gejala dapat berkembang dalam waktu satu hari untuk satu sampai minggu. Setelah waktu singkat (satu jam hingga dua hari) ketika pasien mengeluh demam dan nyeri otot, gejala yang lebih parah bisa berkembang. Sayangnya, selama tahap awal ini, dokter tidak bisa mengatakan penyakit ini dari penyakit lain, seperti infeksi virus seperti influenza. Kecuali kasus ini terjadi pada orang yang diketahui telah terkena atau di tengah-tengah epidemi penyakit meningokokus, mungkin tidak ada gejala spesifik atau tanda-tanda yang ditemukan yang membantu dokter mendiagnosa masalah. Jarang, infeksi aliran darah tingkat rendah yang disebut meningococcemia kronis dapat terjadi.

Setelah periode awal ini, pasien akan sering mengeluh demam terus, menggigil, kelemahan luar biasa, dan bahkan perasaan malapetaka yang akan datang. Organisme mengalikan dalam aliran darah, dicentang oleh sistem kekebalan tubuh. Tingkat keparahan penyakit dan komplikasi yang mengerikan yang disebabkan oleh kerusakan organisme tidak ke dinding pembuluh darah kecil. Kerusakan ini disebut vasculitis, peradangan pembuluh darah. Kerusakan pada pembuluh darah kecil menyebabkan mereka bocor. Tanda-tanda pertama dari keparahan infeksi adalah bintik-bintik perdarahan kecil terlihat pada kulit petechiae). Seorang dokter harus selalu mencurigai meningococcemia ketika ia / dia menemukan pasien yang sakit akut dengan demam, menggigil, dan petechiae.

Dalam beberapa jam, pembuluh darah kerusakan meningkat dan daerah perdarahan besar pada kulit (purpura) terlihat. Perubahan yang sama terjadi dalam organ internal orang yang terkena dampak. Tekanan darah sering meniup dan mungkin ada tanda-tanda perdarahan dari organ lain (seperti batuk darah, pendarahan hidung, darah dalam urin). Organisme tidak hanya merusak pembuluh darah dengan menyebabkan mereka bocor, tetapi juga menyebabkan pembekuan dalam pembuluh. Jika pembekuan ini terjadi di arteri yang lebih besar, itu menghasilkan kerusakan jaringan utama. Pada dasarnya, daerah yang luas kulit, otot, dan organ mati karena kekurangan darah dan oksigen. Bahkan jika penyakit ini cepat didiagnosis dan diobati, pasien memiliki risiko tinggi kematian.

Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS)

Sindrom pernafasan akut (SARS) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus penting, yang disebut coronavirus SARS terkait (SARS-CoV). SARS pertama kali dilaporkan di Asia pada bulan Februari 2003. Selama beberapa bulan ke depan, penyebaran penyakit ke lebih dari dua lusin negara di Amerika Utara, Eropa, dan Asia sebelum wabah global SARS dari 2003 yang terkandung.

SARS dimulai dengan demam tinggi (suhu lebih besar dari 100,4 ° F [> 38.0 ° C]). Gejala lain mungkin termasuk sakit kepala, perasaan keseluruhan ketidaknyamanan, dan nyeri tubuh. Beberapa orang juga memiliki gejala pernafasan ringan di awal. Sekitar 10 persen sampai 20 persen pasien mengalami diare. Setelah 2 sampai 7 hari, pasien SARS dapat mengembangkan batuk kering. Kebanyakan pasien mengalami pneumonia.

Cara utama yang LAK tampaknya menyebar adalah dengan dekat contact person-to-person. Virus yang menyebabkan SARS diduga ditularkan paling mudah oleh droplet pernapasan (droplet spread) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Droplet dapat terjadi ketika tetesan dari batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi yang didorong jarak pendek (umumnya sampai 3 meter) melalui udara dan disimpan pada selaput lendir mulut, hidung, atau mata orang yang berada di dekatnya. Virus ini juga dapat menyebar ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dengan tetesan menular dan kemudian menyentuh mulut nya, hidung, atau mata (s). Selain itu, ada kemungkinan bahwa virus SARS mungkin menyebar lebih luas melalui udara (penyebaran udara) atau dengan cara lain yang sekarang tidak diketahui).